Seekor Sapi yang ditukar dengan Bibit Kombucha

Derap Kebesaran Kombucha

Popularitas Kombucha yang semakin meningkat

 

© Oleh Günther W. Frank, Genossensch.-Str. 10
D-75217 Birkenfeld, Germany
E-mail: frank@kombu.de
Translated by Nurtjahjo Surjosuparto, Bogor, Indonesia, Jl. Perintis Kemerdekaan no. 38.
E-mail: nsurjo@yahoo.com. I wish to express my sincerest thanks to Mr. Nurtjahjo Surjosuparto for translating this guide.

A Cow in exchange for Kombucha

Penggunaan jamur Teh Kombucha, meskipun berasal dari Timur Jauh, namun masuk ke Rusia beberapa waktu yang lalu. Pada saat Perang Dunia I, penggunaan Kombucha melebar kearah barat. Para tawanan perang Rusia dan Jerman merupakan pemeran penting bagi penyebaran jamur tersebut. Pada pertengahan tahun duapuluhan, jamur teh ini telah menyebar secara luas di Jerman sebagai obat rumahan maupun obat rakyat. Dr. Harms (1927) memperhatikan bahwa dibeberapa bagian di Jerman, seperti di kawasan industri Westphalia, jamur teh ini telah digunakan secara luas. "Jamur ini sangat dicari oleh beberapa kalangan, dan sangat disukai untuk digunakan sebagai barang pemberian atau buah tangan". Pada saat peperangan antar negara sedang berkecamuk di Eropa, maka di Jerman jamur ini terdistribusikan secara luas dan dijual pada toko2 obat dengan nama dagang yang aneh-aneh seperti "Mo-Gu" atau "Fungojapon".

 

Pada saat PD-I telah didapatkan laporan dari Polandia mengenai Kombucha. Waldeck (1927) melaporkan bahwa pada saat berlangsungnya perang tersebut, seorang penjual obat Polandia yang mempersiapkan suatu minuman sebagai "pelancar keperluan buang air besar" (laxative) – yang tersebar secara terbatas dikalangan tertentu saja dan disebut sebagai "Jamur Ajaib", "Jamur Volga" atau "Jamur Teh-Kvas". Selanjutnya maka dikutipkan dari laporannya yang sangat menggembirakan adalah :

"Adalah pada masa Perang Dunia pada tahun 1915. Saat itu saya sedang duduk disuatu sudut dalam sebuah rumah obat di bagian Polandia yang saat dikuasai Rusia. Sejak saya dijangkiti sembelit yang merongrong, yang disebabkan oleh kesalahan dari Kepala Pembagian Ransum makanan, saya mencari tuan rumah (dia bisa berbicara bahasa Jerman dengan baik, namun lebih cenderung pendiam) dan memintanya untuk membuatkan minyak Rhizinus, yang mana untuk itu akan saya bayar. Ahli obat tersebut menjawab bahwa dia tidak lagi mempunyai sedikitpun sisa obat tersebut, sebab semuanya telah diminta oleh penguasa militer untuk keperluan pasukannya. Ketika saya memintanya untuk mencarikan pencahar yang berreaksi lembut dan tidak membahayakan. Maka diapun memperhatikan saya dengan tajam serta menilai kesungguhan saya untuk sejenak. Kemudian dia berbisik pelan kepada saya, apakah saya mau menyediakan teh, gula dan cognac atau rum, yang akan dipakainya sebagai bahan pembuat "Obat Ajaib". Penuh dengan keinginan tahu, cepat2 saya ambilkan bahan2 tersebut dari bungkusan ransum lapangan saya.

Ahli obat tersebut mengambil segelas cognac dari botol saya, kemudian teh serta gula, masing2 sesendok makan penuh; semua dimasukkannya kedalam poci teh yang kelihatan kotor, darimana dituangkannya minuman untuk saya segelas penuh. Dia kemudian memperhatikan keraguan saya untuk minum, dan dituangkan untuknya sendiri lalu dengan lahap meminum isinya yang cokelat keruh.

Dengan penuh keheranan saya bertanya mengenai minuman tersebut, yang dijawabnya sebagai "Jamur Ajaib". Ketika saya bertanya mengenai jamur yang luar biasa itu, maka dijawabnya dengan ketus, "Ini adalah suatu Rahasia!". Kemudian disuruhnya saya untuk meminumnya setengah cangkir setiap pagi dan sore.

Sewaktu kembali ke kamar saya, maka saya minum sedikit jamur ajaib tersebut. Baunya yang seperti anggur beralkohol dan rasanya yang asam kurang menyenangkan selera saya. Saya akan bisa meminumnya dengan rasa suka, seandainya minuman tersebut ujudnya tidak keruh, dan pula karena ada peringatan harian melalui surat2 pengumuman, yang mengharuskan kita ber-hati2 terhadap serangan kolera dan dysentri yang sedang berkecamuk, namun saya tetap meminumnya dengan taat sebanyak setengah cangkir dua kali sehari.

Keesokan paginya terjadilah seperti apa yang diharapkan, yaitu pembuangan dengan dengan rasa yang lembut, penuh kelegaan, serta tanpa rasa sakit di perut sedikitpun. Selama beberapa hari berikutnya, saya memberikannya kepada dua orang teman yang sedang mengalami kesulitan yang sama dengan obat ajaib tersebut.

Sehari sebelum kepindahan pasukan kami ke arah timur, tuan rumah ditempat saya tinggal, bergegas masuk kamar saya dengan eskspresi penuh ketakutan serta pengharapan akan pertolongan saya. Beberapa serdadu Austria tengah menggeledah rumahnya dan mencari sapi miliknya yang merupakan sapi miliknya yang terakhir. Sapi itu disembunyi-kan dibelakang gudang tempat penyimpanan tanaman ramuan obat. Saya kemudian beru-saha menengahi serta menanyakan mengenai surat2 tugas penggeledahan mereka, yang mana mereka tidak mampu menunjukkannya. Kemudian mereka meninggalkan ahli obat tersebut beserta sapinya yang terakhir dan kurus itu.

Sebagai balas budi kepada saya, maka saya memintanya untuk mengungkapkan ramuan serta nama dari obat ajaib tersebut. Kegembiraan dari orang yang mulutnya terbiasa ketat, karena sapinya terlepas dari ancaman tadi, membuat mulutnya menjadi kendor. Diung-kapkannya rahasia bahwa minuman tersebut berasal dari obat rumahan orang Rusia, yang biasa dinamakan Jamur Ajaib atau Jamur Volga atau jamur Teh-Kvas. Minuman ini dipersiapkan melalui proses seperti pada beberapa minuman ajaib lainnya yaitu Kefir, yang rasanya asam sekali dan juga memudahkan pencernaan, yang menggunakan bibit kefir serta susu sebagai bahan dasar. Dengan jalan mencampur bibit kefir yang berbentuk menyerupai lendir-jelatin yang kemudian dicangkokkan pada susu; demikian pula dengan KT, maka seseorang dengan mudah bisa mengambil sedikit bibit jamur yang menyerupai lendir itu dan dimasukkan atau dicangkokkan kedalam larutan teh manis. Campuran ini tidak akan bisa diminum langsung seperti apa yang telah diberikan ahli obat itu untuk saya sebelumnya, dan merekayasanya supaya saya percaya. Namun sebenarnya larutan tersebut seharusnya didiamkan untuk beberapa hari dulu supaya bisa terlaksana proses fermentasi teh manis-jamur dengan sampurna. Karena ahli obat tersebut juga seorang penderita sembelit, maka kemanapun dia pergi selalu dibawanya persediaan sebotol kecil, terutama karena minuman tersebut bagus juga untuk berbagai macam penyakit. Dan seperti halnya kefir atau yoghurt yang membuat orang terlepas dari kesusahan serta membantu untuk menjadikan manusia panjang umur karena, asam yang dihasilkan ber-manfaat untuk mempermuda sel2 tubuh. Dikalangan penduduk setempat, keajaiban teh-jamur atau jamur ajaib seperti namanya, telah dikenal secara luas.

Disebabkan oleh rasa terima kasih karena pertolongan saya kepadanya, maka keesokan harinya sewaktu saya akan berangkat, ahli obat tersebut memberikan botol berleher besar yang berisi zat berbentuk semacam lendir kental agak kenyal. Ini adalah bibit jamur tersebut yang kemudian hari saya proses sebagai "obat ajaib" yang saya sukai dan sering saya minum.

Ceritera tersebut yang ditulis oleh Dr. Waldeck dalam laporannya yang bisa saya tambahi komentar sebagai berikut: teh, gula serta jamur Kombucha adalah unsur yang dibutuhkan untuk membuat minuman Kombucha yang sangat dihargai didalam lingkungan pengoba-tan tradisional para penduduk. Ahli obat yang saya ceritakan, telah menambahkan rum dan cognac, walau bagaimanapun sebenarnya tidak perlu dalam membuat campuran minuman tersebut dan tujuannya hanya untuk menyesatkan saya. Anda semua sebagai pembaca, akan dengan lebih mudah membuat minuman daripada Dr. Waldeck saat itu: bahwa anda bisa mendapatkan Jamur Kombucha yang mana adalah bahan dasar minuman segar, tanpa harus mempertahankan kepemilikan sapi seperti ahli obat yang di-ceriterakan diatas. Untuk keterangan selanjutnya bacalah " Kombucha – Healthy Beverage and Natural Remedy from the Far East" oleh Gunther W. Frank. Bila anda ingin tahu dimana mendapatkan buku ini di U.S. atau Canada, klick disini. Bila anda menemui kesulitan untuk mencari sumber di Negara anda, maka anda bisa berhubungan dengan pengarang langsung dengan e-mail: frank@kombu.de.

Janganlah seperti ahli obat Polandia tersebut yang memberlakukan Kombucha sebagai rahasianya sendiri: bila anda mempunyai pengalaman yang bagus dan menyenangkan, maka seharusnya anda mempunyai tanggung jawab moral untuk memberi tahu orang lain mengenai ini. Ada pepatah Cina kuno, tempat asal jamur teh Kombucha ini mengatakan, "Saling membantu juga memperkaya orang miskin sekalipun".


Kombucha Journal terdapat dalam 29 bahasa :
Pilih Bahsa Anda - Choose your language - Wählen Sie Ihre Sprache - Choisez votre langue:
[English]    [German]    [French]   [Spanish]    [Italian]   [Dutch]    [Norwegian]   [Danish]   [Swedish]    [Portuguese]   [Slovakian]    [Czech]    [Slovene]    [Hebrew]    [Iranian]   [Esperanto]   [Croatian]   [Finnish]    [Romanian]   [Hungarian]   [Greek]   [Indonesian]   [Bulgarian]   [Ukrainian]   [Korean]   [Polish]   [Russian]   [Chinese]   [Arabic]



GuntherGünther W. Frank
Genossensch.-Str. 10
75217 Birkenfeld im Schwarzwald, Germany


© Copyright Günther W. Frank 1996. Permission is granted to freely copy this document in electronic form, or in print if the publication is distributed without charge, provided it is copied in its entirety without modification and appropriate credits are included. On the WWW, however, you must link here rather than copy it. Any other use requires explicit permission by the author.


Kembali ke Halaman Utama Bahasa Indonesia
Kembali ke Halaman Utama Bahasa Inggeris
Kembali ke halaman Utama multibahasa Günther's book
amazon.co.uk logo Worldwide Delivery by amazon.co.uk:
Order Günther Frank's book “Kombucha - Healthy Beverage and Natural Remedy from the Far East”    Today!
Photo Günther W. Frank Günther W. Frank frank@kombu.de
  URL of this article
www.kombu.de/indones2.htm

• Impressum •